<pesan sponsor…:whoaaammm…..hari ini ngantuk dan laper serta lemess sekali deh…>
Jika kritik adalah sepotong kripik.
Kritik tak ubahnya seperti kripik..
Ada yang gurih, asin, pedas, manis, atau malah asem.
Sayangnya, tidak seperti kripik yang banyak penggemarnya. Kritik justru kerap dijauhi.
Malah begitu banyak yang alergi terhadap kritik. Sehingga tidak aneh jika dalam suatu lingkungan
orang yang kerap melontarkan kritik langsung disingkirkan.
Harun Al Rasyid(khalifah bani Abbasiyah) merupakan salah satu contoh orang yang sukses karena
kritikan . Sebagai pemimpin khalifah islam, Al Rasyid malah sengaja mengangkat seorang Abu
Nawas sebagai penasehat yang selalu memberi kritik untuknya.
Dia siap mendengar segala kritik dari Abu Nawas sepedas apapun. Bagi Al Rasyid, kritik membuat
kualitas kepemimpinannya terus terjaga. Ibarat tune up yang dilakukan pada mesin mobil, begitu
selesai di tune up, mobil pun akan kembali berlari kencang.
Sebenarnya, kritik-mengkritik adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Masalahnya, kadang kita
bingung memilih posisi untuk didahulukan, menjadi pengkritik yang baik atau penerima kritik yang
hebat?
Umumnya, pengkritik yang baik adalah seseorang penerima kritik yang baik pula. Orang yang
terbiasa melancarkan kritik, otomatis harus pula memahami seluk beluk obyek yang akan di
kritisinya. Dengan begitu kritk yang muncul adalah kritik yang bertanggung jawab. Pendeknya,
asbun(asal bunyi), karena nantinya justru tercipta budaya saling tuding, dan bukan budaya diskusi
untuk mencari solusi. Dengan terbiasa berfikir dengan pola terbuka begitu, secara otomatis dia
pun akan siap menerima kritik. Tidak ada salahnya untuk mendengar dan mempertimbangkan
kritik secara objektif.
Umar bin khattab merupakan salah seorang yang dikenal sebagai pengkritik Nabi Muhammad SAW
yang paling jitu. Pernah dalam suatu peperangan, Umar mengkritk Nabi Muhammad SAW yang me
lepaskan begitu saja tawanan perang. Menurut Umar, tawanan perang sebaiknya dimanfaatkan
untuk mengajar membaca dan menulis. Nabi Muhammad SAW pun menerima kritik itu. Ternyata,
masukan dari Umar berefek positif bagi umatnya. Namun suatu kali Umar selaku penguasa sempat
pula dikritik oleh ibu jelata. Umar yang menyamar menanyai ibu jelata itu ttg kepemimpinannya.
Belakangan diketahui, kepemimpinannya sangat buruk sehingga rakyatnya hidup sengsara. Menda
pat kritikan itu, Umar mengganjar dengan mengantar sendiri bahan makanan untuk ibu itu.
Kemampuan Umar mengelola kritk menjadi sebuah energi. Inilah yang sudah semestinya kita buda
yakan di lingkungan kerja kita, baik untuk pemimpin maupun staf. Seorang pemimpin yang baik,
tak hanya mampu mengkritik stafnya. Tapi ia juga siap menerima kritikan dari bawahannya.
Bahkan, ketika stafnya enggan memberi kritikan, ia harus mampu menggali masukan dari stafnya,
dengan cara apapun seperti halnya Umar yang menyamar. Setiap kritik pun, hendaknya diapresiasi
dengan baik, sehingga timbul budaya melontarkan kritik yang efektif.
Jika kita semakin asertif dengan kritik dari lingkungan terkecil lingkungan kerja, maka saat mene
rima kritik dari luar lingkungan, kita akan lebih arif lagi. Maka, kritik pun akan bisa kita terima
seolah kita memakan kripik. Ya, jika kritik itu adalah kripik, apapun rasanya, kita bisa mengunyah
nya dengan renyah, krauk-krauk….hemmm..nyaaammmiiii!!