hikkksss…tidak diterima..
Sunday, January 22nd, 2006hikkss….tidak ke terima dan ga lulus….hikkkssss
sediiiihhh daku….
dah prepare dengan baik…
yah ambil positif thinking….
insya alloh lain kesempatan diterima dan lulus…
hikkss….tidak ke terima dan ga lulus….hikkkssss
sediiiihhh daku….
dah prepare dengan baik…
yah ambil positif thinking….
insya alloh lain kesempatan diterima dan lulus…
Suatu ketika…
ada seorang kakek yang harus tinggal dengan
anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan
anak mereka yang berusia 6 tahun.
Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering
bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara
berjalannya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan.
Namun, sang orang tua yang pikun ini sering
mengacaukan segalanya.
Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun,
membuatnya susah untuk menyantap makanan.
Sendok dan garpu kerap jatuh Ke bawah.
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu
tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun
menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan
semua ini.
"Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami.
"Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk
pak tua ini."
Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah
meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek
akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya
menyantap makanan.
Karena sering memecahkan piring, keduanya juga
memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam
mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan.
Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat
keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya….
Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air
mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata
yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan
agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.
Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua
dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah
memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan
kayu.
Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang
membuat apa?".
Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu
buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti.
Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat
kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan
melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih
dan terpukul.
Mereka tak mampu berkata-kata lagi.
Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi
mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap,
kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang
harus diperbaiki…
Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi
omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh,
makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda.
Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.
==============================================================================
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata
mereka akan selalu mengamati..
telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran
mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita
lakukan.
MEREKA ADALAH PENIRU!
Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain
dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan
oleh mereka saat dewasa kelak.
Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap
"bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang
kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk
anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk
semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu
belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain,
adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk…
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar
berkelahi…
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi
pemalu…
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia
belajar terus merasa bersalah…
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar
menjadi sabar…
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi
percaya diri…
Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar
mengapresiasi…
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar
keadilan…
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin…
Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar
menghargai diri sendiri….
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan
persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh
dunia….
Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat
penting karena mereka diistilahkan oleh Khalil
Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan
anak-anak dalam menapaki jalannya..
Dalam sebuah hadits qudsi Alloh SWT berfirman, yang artinya
"Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, dan juga demi kemurahan dan ketinggian kedudukan-Ku di atas Arsy, Aku akan mematahkan harapan orang yang berharap kepada selain Aku dengan kekecewaan.
Akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata manusia. Aku singkirkan ia dari dekat-Ku, lalu Kuputuskan hubungan-Ku dengannya.
Mengapa ia berharap kepada selain Aku ketika dirinya sedang berada dalam kesulitan, padahal sesungguhnya kesulitan itu berada ditangan-Ku dan hanya Aku yang dapat menyingkirkannya.
Mengapa ia berharap kepada selain Aku dengan mengetuk pintu-pintu yang lain padahal kunci pintu-pintu itu tertutup? Padahal hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapapun yang berdoa memohon pertolongan dari-Ku.
Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesulitannya, lalu Aku kecewakan?
Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena dosa-dosanya yang besar, lalu Aku putuskan harapannya?
Siapakah pula yang pernah mengetuk pintu-Ku, lalu tidak Aku bukakan?
Dan Aku pun telah memenuhi langit-Ku dengan para malaikat yang tidak pernah jemu bertasbih kepada-Ku lalu Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara Aku dan hamba-hamba-Ku, akan tetapi, mereka tidak percaya kepada firman-Ku.
Tidakkah mereka mengetahui, bahwa siapapun yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya, selain Aku, dan hamba-hamba Ku selalu berpaling dari-Ku? Mengapa ia sampai tertipu oleh selain Aku?
Aku telah memberikan kepadanya dengan segala kemurahan-Ku apa-apa yang tidak sampai harus ia minta.
Ketika itu semua Ku cabut kembali darinya, lalu mengapa ia tidak memintanya lagi kepada-Ku untuk segera mengembalikannya, tetapi malah meminta pertolongan kepada selain Aku?
Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, lalu ketika dimintai Aku berikan?
Apakah Aku ini bakhil(pelit, kikir , dsb - redaksi), sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku?
Tidakkah dunia dan akhirat itu semua milik-Ku?
Tidakkah semua rahmat dan karunia itu berada di tangan-Ku?
Tidakkah dermawan dan kemurahan itu adalah sifat-Ku?
Tidakkah hanya Aku tempat bermuara semua harapan?
Dengan demikian siapakah yang dapat memutuskannya daripada-Ku?
Adakah pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi; mintalah kepada-Ku. Akupun lalu memberikan kepada masing-masing orang, pikiran apa yang terfikir pada semuanya.
Dan semua yang kuberikan itu tidak mengurangi kekayaan-Ku meskipun sebesar debu.
Bagaimana kekayaan yang begitu sempurna akan berkurang, sedangkan Aku mengawasinya?
Sungguh alangkah celakanya orang yang terputus dari rahmat_ku. Alangkah kecewanya orang yang berlaku maksiat kepada-Ku dan tidak memperhatikan Aku.
Dan tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang haram seraya malu kepada-Ku"
Alangkah indahnya untaian firman Alloh dalam hadits qudsi diatas, maka adalah suatu tindakan yang bijak apabila saat ini(pergantian tahun baru) mengevaluasi kembali hubungan kita dengan Alloh
Anak adalah fajar baru kemanusiaan. Di tangannya dunia mempercayakan masa depan. Tugas kita(insya alloh sebagai calon orang tua) membekalinya sedini mungkin sehingga kelak mereka mampu berjibaku mengarungi samudra kehidupan. Kembangkan fitrahnya dengan :
@ Cinta
@ Kasih Sayang
@ Teladan dan Kebiasaan Baik dan Benar
@ Memenuhi hak kemanusiaannya, meski masih berbentuk janin didalam kandungan
@ Kerjasama
@ Stimulus Kecerdasan